Masih …

September 10th, 2008 by ryan-andrian

Aku kira akan berlalu beberapa hari yang lalu, ternyata sampai kini pun itu terus terjadi. Stress … secara saat ini adalah puasa.

Aku jadi teringat puasa tahun lalu dengan kejadian yang membuat ku mengurut dada.

Sekarang, wuihhhh … semakin menjadi. Betul-betul adalah sebuah tantangan yang sangat luar biasa mencengangkan. Kadang naik kadang turun, aku bisa mengontrol kesabaran ku.

Entah akan berapa lama lagi ini akan terus terjadi. Setahun ke depan saja ? mudah-mudahan …

Kemaren sepulang nya aku dari kunjungan kerja ke Rakornas di Batam dan Singapur-Malaysia … Pikiran ku terhenyak sekali. Dengan banyak sekali pertimbangan akhir nya aku tetap pada pilihan ku untuk “berangkat” menunaikan kewajiban tahun depan seperti rencana awalku. Tidak terfikir sedikit pun aku akan berangkat tahun ini dengan masa hanya 2 bulan saja sampai keberangkatan ku ke sana. Secara pekerjaan, mental, fisik dan persiapan psikologis ku tidak memadai untuk pergi.  Mohon maaf Tuhan, semoga KAU meridhoi ku untuk berangkat tahun depan. Amin.

Kini dalam pikiran ku terdapat semakin banyak hal yang harus aku selesaikan dalam kurun waktu yang sangat pendek dan singkat. Dan aku yang orang bilang sedikit perfectionis semakin sulit untuk menyelesaikan.

Beberapa hari ini, mungkin aku banyak menyakiti hati orang dengan “ketidakmampuan”ku untuk membuat semua orang puas. Mohon maaf, Karena aku sendiri pun tidak merasa dipuaskan dengan pilihan ku. Inilah aku menyebutnya sebuah Resiko. Semoga Tuhan mengampuninya.

Dari sekian banyak peristiwa yang membuat ku mengernyit dan jutek, ternyata orang-orang masih mencintaiku dengan segala keadaanku. Tadi aku lagi-lagi di”berikan” jalan menuju keinginan besar yang tertunda ku hahahahh …. tapi aku gak yakin dan selalu belum yakin ini akan membuatkan nyaman.

Ya ALLAH, berikan aku ketetapan dan pilihan yang terbaik untuk masa depanku.

Maafkan

August 23rd, 2008 by ryan-andrian

2 minggu terakhir ini adalah waktu klimak buat kepala ku menampung semua ‘muatan’

‘Muatan’ pribadi, keluarga, teman, kerjaan, dan lain sebagainya. Sudah tidak jelas seberapa besar volume kepala ku sekarang ini. Semua aku simpan, dan agak sulit untuk aku eksekusi semua nya dalam kondisi parallel (Parallel Execution = Computing ?).

Seperti biasanya, sekali lagi ‘muatan’ (=urusan) pribadi ku selalu di nomer sekian kan.

Selalu dan selalu, sulit buatku untuk aku eksekusi selama masih banyak task yang dalam kepalaku. Bukan tidak mau ku dahulukan (maaf…) tapi aku gak mau ketika aku menikmati masa eksekusi ‘muatan’ pribadi ku terganggu dengan hal-hal yang akan membuat mood ku hilang.

Maaf kan aku … untuk kamu dan ku pribadi. Hanya DIA yang tahu betapa aku menginginkan masa itu ada dalam kehidupan ku.

Maafkan …

Aku, kemarin, hari ini, dan besok (1)

May 11th, 2008 by ryan-andrian

Beberapa hari ini, pikiran dan tenaga ku entah kenapa merasa tidak segar. Selalu dibayangi dengan pekerjaan dan pekerjaan. Apa yang ku kekerjakan seperti nya tidak terstruktur sekali. Hampir jadi sporadis, sehingga ketika sampai di rumah rasanya capek dan entah kenapa tidak bisa lagi sekedar membuka-buka buku dan membaca sedikitnya beberapa lembar yang seharusnya bisa jadi membuat pikiran saya tenang dan refresh untuk kemudian tertidur dan terbangun dengan pikiran yang segar. Beberapa rencana yang telah ku buat, kini ku pertanyakan kembali. Akankah bisa ku wujudkan dengan kesiapan mental dan kesiapan fisik serta pikiran yang masih sporadis bentuknya. Apalagi ketakutan yang tidak pernah berhenti di kepala ku. Mungkin ini adalah buah dari sifat yang kata orang perfectsionis … mbuhhh, tulisan bener atau gak. Bukannya aku gak mau dibilang itu, tapi aku pengen sesuatu lebih terstrukstur dengan baik. Dan tidak hanya berefek sesaat, harus ada pengaruh ke depannya. Harus menjadi lebih baik, baik dan lebih baik. Be a better man !!! Beberapa waktu yang lalu, aku pergi ke suatu tempat. Yang kata keluarga ku adalah tempat yang seharusnya ditempatkan sebagai tanah leluhur … wuihhh kesannya gimana getuhh …. orang-orang disekeliling ku mendukung kepergian ku ke tempat itu. Sesampai disana banyak kelucuan, kemarahan, dan tentunya beberapa kekaguman akan tempat baru yang ku singgahi. Dan pastinya, sekembalinya dari sana beberapa pelajaran terdefinisi dengan baik di kepala ku. Ku simpan dalam memori perjalanan hidup seorang aku. Beberapa orang disana membuat ku berbahagia, dan mengagumkan. Beberapa diantaranya telah membuat pertemanan baru yang bisa aku catat sebagai sebuah perjalanan emosional dan spritual ku. Bagaimana menghadapi hidup, memanfaatkan hidup bahkan bagaimana menjalankan hidup agar hidup lebih hidup. Satu yang terpenting yang aku catat dari pertemananku dengan seorang Dokter sekaliber beliau, bahwa hidup harus dihargai dengan ketulusan hati. Dan semestinya dijalankan dengan ikhlas serta tidak pernah lupa akan menjaga keberlangsungan hidup dengan sesuatu yang tidak hanya bermanfaat untuk orang lain dan sekitarnya tetapi juga untuk diri kita sendiri. Yah, kesehatan hidup kita. Entah itu kesehatan fisik dan mental. Itu yang selalu dan selalu aku permasalahkan dalam pikiran ku. Selalu tidak ada waktu untuk perduli dengan 2 hal itu. Yang ada dalam pikiran ku adalah pekerjaan dan pekerjaan. Mungkin karena sebuah tanggung-jawab moral yang begitu besar. Tetapi kadang aku selalu bertanya aku bertanggung-jawab kepada siapa ? yang ada dalam pikiran ku saat ini aku hanya bertanggung-jawab pada diriku sendiri dan penciptaku. Tidak lebih dari itu. Kadang orang-orang mengatakan bahwa kita bertanggung-jawab pada atasan kita atau lebih tepatnya ke bos kita, buat aku ? kayaknya untuk saat ini aku belum bisa menempatkan tanggung-jawab ku kepada beliau-beliau semua. Aku masih ingin bertanggung-jawab pada diriku sendiri dan penciptaku. Beberapa lama sebelum aku pergi ke tempat itu, berbagai ”tantangan” emosional dan mental psikis datang kepada ku. Entah ini sebuah tantangan dalam menguji tingkat emosionalitas kepala dan hatiku atau lebih ke memang sesuatu yang harus terjadi karena sebuah birokrasi dan pembuat masalah sesuatu yang seharusnya menjadi lebih mudah dibuat menjadi lebih sulit. Seperti orang yang tidak memiliki pekerjaan saja !. efek dari tantangan emosional dan mental psikis itu berakibat pada banyak hal. Tidak hanya pengayaan pengetahuan dan seberapa tingkat emosional yang sudah aku turunkan. Tetapi juga berakibat kepada fisik ku. Beberapa hal terjadi pada kesehatan ku. Penglihatan ku dan kondisi tekanan emosional ku yang sangat berat. Tapi untunglah, aku segera dapat merendahkan semuanya dengan logika bahwa aku harus segera menstrukturkan semua pekerjaan ku agar dapat dikerjakan lebih mudah. Dan tentunya mereview kembali target-targetnya. Aku jalankan semuanya dengan ikhlas dan easy going … let it flow step by step. Dan dikerjakan jika bisa jika tidak tunggu saat yang tepat untuk mengerjakannya. Sekembalinya aku dari tempat itu, sedikit demi sedikit semua berjalan dengan baik. Aku mengerjakan sesuatu dengan semampuku, dan jika tidak maka aku telah meminta teman-teman ku dan sahabat-sahabat ku untu membantu. Dan beruntunglah aku, bahwa aku banyak memiliki sahabat dan teman yang mau membantu setiap saat aku mau. Tapi sayang, selalu setiap kali sesuatu berjalan dengan santai dan menyenangkan ada saja yang tertinggal yang harus nya dikerjakan dengan lebih baik. Mungkin pelajaran yang aku dapat adalah bahwa kekuatan perencana ku sangat lemah dan un-disiplin. Aku sangat-sangat tidak disiplin terhadap rencanaku. Oleh karena itu, sebuah akibat bahwa pikiran dan tenaga ku tidak segar. Selalu merasa capek dan capek. Hey !!! tentang disiplin … ada hal yang menarik dengan kata ini. Aku merasakan bahwa aku tidak memiliki disiplin atas apa yang aku rencanakan dan ingin aku lakukan. Tetapi aku malah mendapatkan award sebagai seorang yang disiplin dari sekelompok orang … hahahhaahahhaha … Ketawa dan shock yang pertama kali aku rasakan di kepala dan hatiku. Bagaiamana bisa? Atau kata orang londo bilang how come ?? orang seperti aku mendapatkan itu ? entah, bagaimana orang menilai aku seperti itu, tapi yang pasti aku tidak merasa bangga akan hal ini. Buatku, bisa jadi orang menilai aku dari sebagian yang terlihat sedangkan yang tak terlihat akan semakin tidak terlihat. Bersambung …

WHEN THE DEATH GO DOWN ON ME

May 11th, 2008 by ryan-andrian

Purwakarta, 29 juni 1995 jam 07.30 teng.

………………………………………………

Telepon berdering, saya segera beranjak menuju ruangan tamu. Kemudian bergegas saya mengangkatnya. Suara deringan terhenti,

“ Assalammualaikum …” terdengar sebuah suara di sana berat.

Saya menarik nafas suara ini lagi …

“Ya, waalaikumsalam …”

“200208 rumahnya Haji Mardi ?”.

”Ya, betul.”

”Bisa bicara dengan Taufik …”, terdengar suara cekikikan.

”Masih ingat dengan saya ?”.

”Bapak malaikat pencabut nyawa ?”

”Tepat.” Saya menarik nafas….

”Yang akan menyabut nyawa rabu tanggal 10 juli nanti ?”

”Tepat.”

”Jam 08:00”.

”Ya, ternyata kamu masih ingat … tak percuma kamu masuk jurusan Fisika. Saya tertawa hambar atau bahkan mungkin geli.

”Akh … tolong jangan ganggu saya dengan lelucon konyol ini.”

”Maaf, ’Fik … ini buka lelucon, ini sesuatu yang bakal kamu alami”.

”Eeh … tadinya malam ini bapak tidak akan menelepon kamu tapi tiba-tiba Allah menyuruh bapak untuk mengingatkan kamu, bahwa malam ini kamu mesti Shalat Tahajjud”.

”Edannn … !!! Suruhan Allah …”, saya kembali menahan geli.

”Pak, apa bapak ini nggak punya pekerjaan lain ?”, tak ada jawaban … sesaat kemudian terdengar suara beratnya lagi,

”Maaf ’Fik. Seperti yang kamu ketahui pekerjaan yang diperintahkan oleh Allah hanya satu …”

”Mencabut nyawa ?”

”Yaa …” Saya berdehem …, ”Ooh, jadi bapak ini Izroil begitu atau Malaikat Zabaniyah ?”.

”Izroil”. Saya terdiam kemudian tertawa tidak keras.

”Mengapa tertawa, ada yang lucu ?”.

Dimana bapak menelepon saya ?”.

”Di Langit”.

Astagfirullah ini orang mungkin baru keluar dari Grogol atau salah obat ?.

“Nomor disini 123456”.

Nomor yang mudah dihapal dan tentu saja ini cuman guyon. Rasanya bapak yang menelepon ini sakit.

“Maaf pak, saya tidak ada waktu untuk yang kayak ginian. Besok ada ulangan Matematika, saya mesti belajar. Assalammualaikum”.

Terdengar suara tertahan disana. Tetapi telah dengan cepat saya menyimpan gagang telepon. Ukhh … Malaikat Izroil ?. Rabu, 29 Juli 1995 ?. itu hari kematian saya ?. Suruhan Allah, Allahuaakbar !!!

Adakah lelucon yang lebih gila dari ini ?. Malaikat Izroi menelepon saya ?. Dari langit ? Hahahahhaahhh….. Dan saya akan meninggalkan dunia ini nanti ? hari Rabu ? hahahahahha …. Begitu penting dan istimewakah seorang Taufik Ridwan, hingga kematiannya sampai diberi tahu dulu ? Oleh Malaikat lagi ?.

Saya menggeleng-gelengkan kepala, bergegas menuju kamar. Bapak itu, ya bapak itu, sudah sejak seminggu yang lalu rajin menelepon untuk lelucon yang saya rasa sangat lucu itu….

Malam semakin larut dan saya kembali tenggelam dengan buku Matematika saya. Tenggelam dengan contoh soal-soal latihan yang akan diulangankan besok.

*****

Saya membuka pintu. Dan langkah saya langsung terhenti. Mata saya terpaku tajam menatap sebuah benda di lantai. Seuntai karangan bunga…saya terdiam…karangan bunga !!! Perlahan saya meraihnya. Bagus sekali. Di ujung talinya sebuah kartu bergoyang-goyang tertiup angin pagi.

”SEMOGA HARI INI KAMU BANYAK BERBUAT KEBAIKAN”

                                                                     Izroil

Bersambung …

diambil dari cerita yang lalu

Tahun Baru 2008

January 3rd, 2008 by ryan-andrian

Hari ke-3 di Tahun Baru 2008 dah mau lewat.

Tahun Baru 2008, aku hanya diam di rumah (seperti biasa) dengan segala kepenatan kepala ku. Tidur, tidur dan tidur … karena kepala berat sekali setelah beberapa hari kebelakang rasanya kepada dan badan ini dipaksa untuk kerja rodi. Dan tepat pukul 23.50 aku terbangun dan langsung menuju kamar kecil untuk mengambil air dan dilanjutkan dengan suatu permohonan atau resolusi ku di tahun ini. Padahal di luar rumah, tepatnya di depan rumah orang-orang berteriak-teriak dengan kembang apinya berbahagia.

Pelajaran akhir tahun 2007,

Aku semakin menjadi diriku sendiri. Dengan segala kekhasan ku. Dan beberapa orang semakin kenal dengan karakter ku.

3 minggu menjelang akhir tahun aku belajar membuat sesuatu yang diluar perkiraan ku. Belajar menghitung, merencanakan, meimplementasikan dan mengawasinya agar sesuai rencana. Satu ide ku telah implemented. Dan mudah2an orang-orang yang terlibat di sana bahagia dan mendapatkan manfaat. Semoga.

Akhir tahun penuh dengan kejutan-kejutan ide di kepala ku. Dan sebagian mudah2an bermanfaat untuk orang-orang. Mengingatkan akan sesuatu yang memang sewajarnya menjadi hak kita.

Akhir tahun aku semakin dekat dengan beberapa orang untuk aku paksa mengajari akan hal-hal bisa jadi akan berguna dalam waktu dekat ini.

Desember 2007 -Januari 2008, waktu yang sangat melelahkan dan akan sangat melelahkan. Membagi waktu, memanage prioritas, mengatur schedule, menjaga untuk selalu Fit Badan dan pikiran ku.

Oleh karena itu, Hari ini tepat nya tadi jam 15.00 akhirnya aku memberanikan diri untuk berjanji dengan dokter ku untuk melakukan satu tindakan terhadap sakit di tubuhku. Dokter baru ini mudah-mudah tidak salah dalam memberikan aku penjelasan bahwa tidak akan ada rasa sakit tapi yang ada hanya ketidaknyamanan hahaha bahasa yang sangat halus. Sungguh friendly dokter yang satu ini.

Resolusi 2008.

Menjadi orang yang lebih baik, walaupun itu sulit. Dan seperti yang selalu aku sampaikan di 7 kelas kuliah ku. Kesulitan sering terjadi adalah memulai langkah awal.

Memulai untuk selalu berhitung bahwa aku akan menjalani 7 tahun bekerja dan harus menghasilkan sesuatu yang lebih besar.

Menyiapkan diri dan terus belajar akan rencanaku di tahun 2009.

Mengikhlaskan akan kehendak-NYA. Bahwa Rejeki, Hidup dan Mati serta Jodoh adalah di kehendak-NYA 100%. Aku hanya berusaha.

Mewujudkan impian ku yang sudah aku mulai sejak Juni 2007 yang lalu. Hahhh …. sungguh berat !!! Tapi aku yakin bisa ….!!!. Orang bisa mewujudkan dalam waktu 11 bulan ? aku harus bisa dalam waktu 5 bulan ? hahahahah Mudah-mudahan ….. Amiinn …

Ya ALLAH,

Ampuni dosa dan kesalahan Almarhum Ibu ku. Lapangkan dan Luaskan lah beliau di dalam kuburnya. Tempatkan lah Ibuku di sisi MU di tempat yang sangat mulia.

Ampuni dosa dan kesalahan-kesalahan ayahku. Sehatkan lah selalu beliau. Mudahkan dan lancarkan lah aku merawatnya.

Ampuni dosa dan kesalahan ku selama ini. Mudahkan lah segala urusan ku. Lancarkan lah segala urusan ku. Mudahkanlah rejeki ku dan berilah aku kesehatan disepanjang tahun ini.

Amiin.

Politik = Strategi

November 8th, 2007 by ryan-andrian

Hah …

Minggu ini terasa lelah … entah kenapa ? Bisa jadi training yang sedang aku jalankan tidak terlalu menarik dan jauh dari yang aku bayangkan. Tapi … kalo inget besok-besok yang akan dilakukan dari hasil training ini bisa jadi menarik :-)

Training diisi oleh orang yang sama dengan training topik sebelumnya. Bikin ngantuk, gak menarik, gak antusias, bertele-tele dlsb.

Tapi bisa jadi ini karena ada beberapa tugas yang harus aku lakukan di minggu ini secara parallel lagi … wuihhhh !!

Gak tahu kenapa sekarang ini aku gak fokus dengan kerjaan ku !. Apa karena tanggung-jawab ku sedang 2 ?. 2 Tanggung jawab yang ada di kepala ku membuat aku bingung mana duluan yang harus di prioritas kan. Secara tanggal deadline 20 Desember 2007 sedang mendekat. Sedangkan rencana yang ingin aku buat banyak.

Wuiihhhh … capek juga menerima 2 amanah ini !! Capek yang gak jelas dan terkesan makan gaji buta.

Mungkin bulan depan aku akan nekat mengambil langkah sporadis !!. Melepaskan 1 tanggung jawab yang sebenernya aku suka dan aku banyak rencana untuk membuat ini menjadi BESAR. Sedangkan 1 tanggung jawab ku yang lain juga aku suka, karena yang ini bisa jadi banyak melahirkan dan mendukung tanggung jawab ku yang lainnya bisa jadi BESAR ….

Maka aku harus segera membuat strategi yang aku berharap kedua nya menjadi sama-sama BESAR. Aku bilang ini bukan saja sebuah STRATEGI tapi ini POLITIK.

Tapi kalau pikir lebih dalam strategi politik ini tidak ada keuntungan finansial sama sekali untuk ku … hanya kepuasan melakukan sesuatu untuk temen-temen ku, untuk komunitas ku … Hanya kepuasan dalam mengelola prioritas, hanya menguji ku apakah aku mampu membuat sebuah visi yang realistis untuk masing-masing itu.

Tapi tentunya dari semua yang aku rencanakan, aku punya strategi politik yang lebih besar … Tidak keuntungan finansial aku anggap resiko dan modal untuk strategi politik ku yang lebih besar. :-p

Semoga berhasil dan Berkah !!

Nekat

November 5th, 2007 by ryan-andrian

Finally, …

Aku melakukan kenekatan yang di luar batas pikiran dan bayanganku.

Melakukan perjanjian yang suci dengan diriku sendiri. Mungkin bisa jadi ini adalah buah dari perjalanan Puasa Ramadhan kemaren. Melakukan perjanjian dengan komitmen dan visi ku depan. Entah datangnya dari mana kenekatan ini aku ambil. Tapi aku sangat bahagia melakukan nya.

Tinggal saat ini aku berusaha untuk menjalankan komitmen kenekatan ini sedikit demi sedikit. Walaupun aku sadar bahwa seharusnya aku bisa langsung melakukan secara sporadis dan simultan. Karena ini sebuah kewajiban.

Ahhh … sekali aku hanya manusia. Secara aku hanya dapat berencana untuk menjadi lebih baik. Tetapi semuanya kembali ke motivasi. Saat ini aku sudah melakukan perjanjian di atas hitam putihnya lembaran kertas yang telah di tandatangani. Tinggal menjalankan, ber-istiqomah, belajar dan sering bertanya dan membaca tentang segala hal ini.

Ya ALLAH, entahlah … apakah kenekatan ini adalah sebuah titik dimana aku harus dapat berubah seperti yang seharusnya aku lakukan jauh-jauh hari yang lalu ? Sebelum aku mati ? …. Mudah-mudah ini tidak akan menjadi terlambat. Berusaha untuk belajar dari segala kesalahan yang lalu.

Setelah kenekatan ini, aku berharap bertemu dengan kenekatan lainnya. Sehingga aku benar-benar menjadi orang yang berubah dan menjadi seseorang yang selalu aku impikan dan aku bayangkan. Menjadi Manusia setengah sempurna …. segala kewajiban dan sunnah ku terpenuhi semua. Dan setelah itu menunggu hari dimana aku menjalankan kehidupan yang hakiki tanpa batas.

Semoga menjadi seperti yang aku inginkan. Satu langkah lagi akan kubuat perjalanan jauh ini … 2 tahun mungkin tidak akan lama bagi ku dan mungkin bagi sebagian orang.

Aku tidak sabar menampaki nya TUHAN …

Keisengan yang membawa Korban dan Berkah

October 2nd, 2007 by ryan-andrian

Tak terasa bulan puasa ini tinggal beberapa hari lagi akan lewat. 10 hari lagi mungkin tepatnya. Tetapi tidak banyak hal yang aku dapatkan di bulan puasa ini, selain pelajaran-pelajaran hati dan kemanusiaan semata. Tapi aku tetap harus bersyukur, bahwa mungkin ini adalah saat dimana aku seharusnya belajar tentang ini. Dan mungkin besok aku akan mendapatkan sesuatu yang lebih dari sekedar pelajaran hati dan kemanusiaan semata. Berbaik sangka kepada Tuhan adalah sebuah kewajiban buatku.

Kalau aku mengutif istilah teman kantor ku, kita hanya sibuk akan urusan duniawi. Wuiihhhh … mantap sekali. Awalnya aku terpana dengan kalimat itu. Serasa kena di hatiku. Tapi kemudian aku tersadar, bahwa mungkin saat ini pelajaran itu yang harus aku dapat.

Beberapa hari sebelum puasa yang lalu, rasanya kepala ku akan pecah. Kepalaku dituntut bekerja extra cepat dan hati-hati. Dituntut untuk mengenerate sekian banyak thread. Dimana setiap thread memiliki counter waktu yang berbeda. Dan dituntut bekerja dengan kecepatan dan Fokus yang sangat tinggi. Kalau istilah temanku adalah thread ala sangkuriang. Tapi kemudian semuanya berhenti sejenak secara tiba-tiba. Ketika terjadi suatu interupt yang luar biasa menyita perhatianku.

Jujur aku rasakan, interupt ini memakan tenaga yang sungguh besar. Mungkin karena interupt ini tidak hanya menghentikan kerja kepalaku tetapi disana sudah ada permainan hati. Aku pernah bilang pada diriku, untuk berusaha bekerja tanpa hati. Karena ketika ini masuk ke dalam hati maka tenaga akan terambil dengan cepat dan extra besar. Dan aku mungkin bisa jadi bekerja dengan emosi. Sehingga bisa jadi tidak ada kenyamanan dan keikhlasan dalam melakukan pekerjaan.

Wuiihhh … Bekerja tanpa hati. Serasa aku adalah manusia tidak berhati dan berperasaan. Tidak perduli dengan ungkapan itu. Itulah aku, karena aku memiliki definisi sendiri akan arti sebuah ungkapan Tidak Pakai Hati.

Interupt ini seakan mengambil semua tenaga, pikiran dan hati yang sangat besar. Awalnya aku coba untuk mempending interupt ini di kepalaku. Agar aku tidak memaksakan keterlibatan hati di interupt ini. Tetapi karena efek interupt ini telah melampaui akal dan logika membuat aku mengenerate satu thread lagi untuk interup ini dan terus memproses nya. Yang pada akhirnya, jujur selain aku mempekerjakan kepalaku juga hatiku.

Ini sebuah Customer Satisfaction, itu istilah temanku. Mungkin ini benar. Tapi aku lebih menamakan ini adalah pekerjaan menegakkan keadilan dan kebenaran ke tempat yang seharusnya berada. Wuiihh .. mantap kali !!!

Kemarin dulu, aku pernah menulis tentang keadilan yang sama dengan om Iwan Fals, saat ini aku menamakan keadilan yang hakiki. Menuntut Keadilan akan perilaku yang tidak pada tempatnya dan tidak masuk ke dalam ranah logika ilmiah sebagai seorang yang berada di ranah ilmiah. Kita senantiasa menuntut untuk menempatkan fairness diatas sesuatu yang berkadar ilmiah. Tetapi yang ada malah sebaliknya. Menempatkan perilaku premanisme dan kekanak-kanakan yang dibungkus oleh sesuatu yang disebut ilmiah. Wuihhh …. mantap sekali.

Mulai dari awal puasa sampai 2 minggu puasa berlalu aku coba mencari dan menuntut kenapa thread interupt ini terjadi. Dan menuntut penyelesaian thread interupt ini diproses secara bersamaan. Karena interupt ini pada hakikatnya, ditujukan tidak untuk ku. Tetapi Aku menempatkan sebagai bagian pen-generate interupt ini.

Wuiihhh … perjalanan panjang dan lobby-lobby yang luar biasa. Mencoba mencari dasar pemikiran dan mencoba mendengar pendapat dari beberapa temanku yang lain. Sebelum akhirnya aku coba tujukan ke tempat yang semestinya.

Semua temanku, ternyata berfikir sama dengan ku. Atau minimal aku menemukan benang merah, atas apa yang ada di kepalaku dengan di semua temanku. Akhirnya aku nekat, memforward thread interupt ini ke tempat seharusnya dia diproses. Dengan segala kekhasan ku berbicara dan menulis. Dengan segala kata-kata emosi yang terkesan kasar, seakan melupakan ranah dimana aku berpijak. Hahhahah … Wuihhh … perduli dengan ranah ilmiah saat itu. Yang ada adalah penuntutan yang aku ungkapkan dengan sangat tegas.

Inti dari semua ini adalah orang itu lagi. Thread Interupt ini ternyata berasal dan pada hakikatnya (seharusnya) ditujukan kepada orang ini. Orang yang entah mengapa selalu bersimpangan dengan ku. Aku bukan jagoan, dan aku juga bukan orang kuat yang hidup seakan mencari musuh. Aku hidup untuk mencoba menjadi bagian orang-orang yang bersahaja.

Entah mengapa, selalu dengan ku dia "bermasalah". Aku tidak berfikir dan tidak memiliki fikiran untuk bersimpangan dengan siapapun. Aku akan berteriak dengan kencang ketika kaki ku memang terinjak, tetapi ketika orang lain terinjak, maka aku akan ikut berteriak ketika orang yang terinjak meminta aku ikut berteriak. Dan aku akan berteriak kalau memang seharusnya aku ikut berteriak.

Ya, orang ini. Orang yang kata temanku tadi siang bertanya dengan menggunakan mode broadcast di ruangan kerjaku secara tiba-tiba dan tanpa tendeng aling-aling dan mengagetkan ruanganku yang sedang sepi. Busyeeettt … kekhasan teman unik ku yang satu ini kadang membuat aku terhibur dengan nyaman … heheheh Dia mengungkapkan, "Bener gak, menurutku orang ini sombong banget yach."

Awalnya aku tidak ingin menjawab. Karena buatku, dia menggunakan mode broadcast ketika bertanya. Jadi aku mengartikannya pertanyaan itu tidak untuk ku. Jadi aku boleh tidak menjawab dan mengomentari ungkapan itu. Karena seperti itulah temanku ketika bertanya. Pada akhirnya, ketika tidak mendapatkan jawaban dia akan merubah mode broadcast ini menjadi pertanyaan dengan mode peer-to-peer. Hehehhehh …

AKhirnya aku hanya mengomentari ungkapan temanku ini setelah dia merubah mode-nya menjadi peer-to-peer, "Silahkan definisikan dan simpulkan sendiri. Toh, anda sudah dewasa atau minimal jika anda sudah merasa sudah dewasa. Kalau menurut anda seperti itu, dan anda yakin. Yakinilah pendapat anda. Tapi sebaiknya berpendapat lah lebih arif dan bijaksana." Wuihhh … mantap sekali aku bilang itu. Padahal kata arif dan bijaksana itu sulit sekali.

Menurutku masing-masing punya penilaian. Aku tidak ingin memaksakan pendapatku agar diikuti dan dianut oleh temanku ini. Biarlah temanku ini meyakini apa yang perlu dia yakini atas dasar pemikiran kepalanya yang sehat. Hahahahah ….

Di tempat thread interupt ini diproses oleh banyak orang, ternyata seperti dugaan temanku yang lain. Dia menyiapkan segala pembelaan. Dalam hatiku, aku tertawa dengan keras. Dan mengerlingkan mataku kepada temanku yang lain ini. Sebagai bukti, bahwa praduga temanku ini benar. Dia tidak akan pernah mau mengakui kesalahan. Karena dia pantang menjilat ludahnya sendiri. Lagian siapa yang mau menjilat ludah sendiri … jijik lageehh … hahahhaahha

Dan mungkin menurut dia, tak pantas lah seorang yang bergelar ilmiah buatan luar negeri mengakui kesalahan yang pernah dia perbuat. Atau malah dia memang tidak merasa berbuat kesalahan ? hahahah …. Karena dia adalah bukan manusia. Tetapi sesuatu diatas manusia. Entah apa sebutannya. Karena dia tidak pernah berbuat kesalahan. mmmmmhhh …

Ditempat itu, aku mengeluarkan kata-kata khas ku yang kasar dan jujur, membuatku aku sendiri tercengang. Sampai akhirnya terbukti lah, semua orang "menghakimi" dia dengan lembut. Tapi sayangnya, dia tidak merasa terhakimi. Hahahah …. karena dia tidak pernah salah. Hahahahahh ….

Hasil dari proses thread interupt itu, beberapa hal dianulir. Tetapi buat ku, tidak lagi menjadi sesuatu yang menarik. Karena aku hanya ingin mencari pembuktian akan dia. Dan aku sudah menemukannya. Buatku hasil keluaran dari thread interupt ini adalah sebuah konsekuensi logik.

Tetapi yang menjadi bahan tertawa ku yang lain, adalah ketika dia menjalankan keluaran thread interupt itu. Dia memperlihatkan lagi bahwa dia memang bukan manusia. Hahahah … Kenapa aku mengatakan dia bukan manusia, karena buat dia tidak pernah ada kesalahan !!!

Buatku, Seorang manusia yang berbuat Kesalahan itu ada sebuah pembuktian bahwa dia memang terbukti manusia. Kalau tanpa kesalahan maka bukan manusia. Halahhhh … terus apaan ? Malaikat ? Nabi ? mmbbuuuhhhh …. Sebuah kontrapositif bukan lagi sebuah konsekuensi logik.

Thread Interupt ini aku anggap selesai dan aku anggap berhasil mengeluarkan keluaran yang sesuai dengan apa yang ingin aku tempatkan pada tempatnya. Buat aku ini adalah sebuah penyelesaian yang sangat politis. Tapi it’s oke lah, secara aku harus belajar berpolitik getuhh … hahahahah.

Tidak ada kepuasan bagi seorang manusia. Selalu ada saja merasa kekurangan. Itu anggapanku, jadi keluaran thread interupt ini aku anggap selesai, walaupun ada beberapa hal yang sebenernya bisa aku lanjutkan ke eksekusi lain. Tapi, karena sudah sesuai dengan Final state yang telah aku tetapkan diawal. Maka buatku penyelesaian ini aku anggap selesai.

Tapi ternyata, kemaren Senin, dia kembali membuka thread ini. Hahahahhahah …. Sebuah "kemenangan" lagi buat aku. Dia bertindak sesuatu yang seharusnya dia sadar bahwa apa yang dia lakukan, aku definisikan sebagai pengalihan istilah Menjilat Ludah Sendiri hahahah …. Tanpa dia merasa sadar, bahwa sebenernya dia sedang menjilat ludah nya sendiri. Hahhahaah … jijik sekali !!! Dan sekali lagi, tindakan dia langsung aku kenali dan aku "matikan" lagi …. Skak Mat .. kalo kata orang main catur !!. Dan ungkapan mematikan tindakan dia, langsung aku awali ke bos nya dia. Dan sang bos langsung terperangah, bahwa aku bisa membalikkan itu. Hahhahahah … siang tadi sang bos memposting hasil diskusi tentang tindakan menjilat ludah itu hahahah.

Astagfirullah, …. aku telah berbuat kejam mungkin pada dia tanpa dia sadari. Tapi dari lubuk hati ku yang paling dalam, tidak ada keinginan untuk itu. Hanya sebuah usaha agar temanku yang satu ini, dapat melihat teman-temannya lain di tempat yang seharusnya dia tempatkan. Dan agar pencitraan yang baik terpancar dari sebuah kerja tim yang baik. Walau bagaimanapun, temanku yang satu ini adalah temanku. Sang pencari pelajaran. Mudah-mudahan temanku dapat mengambil pelajaran seperti hal nya aku mendapatkannya. Kalau temanku bilang, Keisengan yang membawa Korban dan Berkah. :-)

Wallahualam, mohon maaf atas kesalahanku baik yang disengaja maupun tidak. Maafkan aku lahir bathin, secara beberapa hari lagi kita memasuki bulan syawal.

NOL BESAR

September 12th, 2007 by ryan-andrian

mmm…diawali dengan pagi yang terburu-buru beranjak siang, aku berangkat untuk menunaikan kewajibanku. Di tempat itu aku coba menjadi diriku yang sebenarnya. Mencoba bersikap semestinya dan sewajarnya. Tidak berfikir untuk melakukan hal-hal diluar keadaban sebagai makhluk sosial. Aku menilai sesuatu berdasarkan Nalar ku, merendahkan segala penilaian yang berasal dari hati. Dan Yesss… satu tahap aku lalui dengan beberapa objektifitas mengarah ke sesuatu yang baik (ini tidak relatif) menurut aku dan beberapa temanku yang ikut menilai.

Sayang … keindahan objektifitas yang aku tebar bersama teman yang lain, malah mendatangkan sesuatu ke-dzaliman yang menimpaku dan teman ku lainnya. Penerapan standar ganda dalam penilaian yang seharusnya bisa dibuat konsisten dan sesuai dengan aturan.

Sekali lagi … aku melihatnya ini sebagai sebuah cermin buat aku untuk menjadi lebih baik. Aku melihatnya ini sebagai sebuah acuan penilaian ku terhadap orang ini. Kesel, Sebel, Panas, dlsb ada di hatiku ketika diawal aku mendengar dan mengetahui ihwal ini. Tapi dengan kesadaran yang sangat dalam, aku coba untuk melihatnya dengan nalarku. Mencoba dengan susah payah menyeimbangkan penglihatan Hati dan Nalar ku.

Sekali lagi, buat aku … orang ini sangat egois dan pemaksa kehendak. Menerapkan aturan sesuatu ketika dia memerlukan tanpa dikonfirmasi dengan yang lain. Seakan orang-orang disekitarnya tidak ada dan menjadi NOL BESAR.

Buat aku, sekali lagi … betul-betul tidak memiliki etika sebagai manusia ilmiah. Manusia yang seharusnya menjunjung tinggi nilai KEBAJIKAN, NALAR dan ILMIAH sebagai bagian komunitas yang cerdas. Jauh sekali dari Status Manusia yang memiliki Etika yang Elegan. Yang ada hanya Etika Kolong Jembatan yang sama dengan NOL BESAR.

But, at least … saya dapat pelajaran banyak hal ini. Betapa sekali lagi, kita hanya manusia. Yang memiliki cara pandang yang berbeda, keangkuhan yang sangat tinggi, merasa paling benar. Dan ini adalah sebuah kesalahan besar yang ekivalen dengan Kebajikan yang NOL BESAR.

wallahualam.

Maafkan saya, beberapa jam lagi menuju bulannya kebajikan. Semoga di beberapa jam ke depan kebajikan akan datang dengan sangat lancar untuk Ku, Dia, dan semua orang. Sehingga menjadi manusia yang lebih bijak dan lebih baik. Tidak menjadi manusia yang berstatus NOL BESAR.

Keadilan = Iwan Fals

February 8th, 2007 by ryan-andrian

Hah … beberapa waktu yang lalu seseorang meneriakan ketidakadilan. Aku terperangah, karena dia meneriakkan keadilan yang dibatasi atas keinginannya sendiri. Keadilan yang hanya diperuntukkan untuk nya sendiri. Dia tidak sadar apa yang sudah diungkapkan, bahwa keadilan adalah sesuatu yang semu. Tidak ada keadilan yang kekal di dunia ini kecuali milik NYA.

Ketika dia meneriakkan keadilan, saya ketawa bukan lagi senyuman. Bukti bahwa dia mengerti apa hakikat keadilan. Karena dari itu, saya menjadi tahu apa yang sebenarnya yang ingin diteriakkan.

Sungguh aneh, seseorang yang mengaku cerdas lulusan luar negeri tetapi kadar berfikir nya hanya lokal pribadi. Menutupi kesalahan cara berfikir dengan menghukum orang lain yang tidak mengerti apa yang ada dibalik setiap teriakannya. Teriakan yang hanya bisa saya dengar adalah Teriakan Sombong, yang mengagungkan cara berfikir dan menganggap produk luar negeri sesuatu yang agung.

Kesalahan adalah milik kita semua. Karena dari kesalahan kita menjadi pintar, kita menjadi bersyukur bahwa kita terbukti adalah manusia, bahwa kita bukan TUHAN. Mengakui kesalahan sendiri tidaklah mudah, tetapi mengakui kesalahan sendiri bukanlah sesuatu hal yang salah.

Well, saya jadi teringat lyrics dari Iwan Fals. Thanks for Mr. Dindin Komarudin yang sudah menuliskan lirik ini kepada saya. Pembuktian bahwa beliau adalah fans fanatik dari Om Iwan Fals.

Jangan Bicara
Karya : Iwan Fals ( Album Barang Antik 1984 )

Jangan bicara soal idealisme
Mari bicara berapa banyak uang dikantong kita
Atau berapa dahsyatnya
Ancaman yang membuat kita terpaksa onani

Jangan bicara soal nasionalisme
Mari bicara tentang kita yang lupa warna bendera sendiri
Atau tentang kita yang buta
Bisul tumbuh subur diujung hidung yang memang tak mancung

Jangan perdebatkan soal keadilan
Sebab keadilan bukan untuk diperdebatkan
Jangan cerita soal kemakmuran
Sebab kemakmuran hanya untuk anjing si tuan Polan

Lihat disana
Si Urip meratap
Di teras marmer direktur murtad

Lihat disana
Si Icih sedih
Diranjang empuk waktu majikannya menindih

Lihat disana
Parade penganggur
Yang tampak murung ditepi kubur

Lihat disana
Antrian pencuri
Yang timbul sebab nasinya dicuri

Jangan bicara soal runtuhnya moral
Mari bicara tentang harga diri yang tak ada arti

Atau tentang tanggung jawab

Begitu lirik lagu om iwan fals. Jangan bicara tentang keadilan, karena keadilan bukan untuk diperdebatkan. Jangan bicara soal idealisme (keadilan) Mari bicara berapa banyak uang dikantong kita.

Yach, betul … Dia bicara soal keadilan tentang berapa banyak uang yang ada di kantong nya. Karena dia bilang tidak adil jika uang yang ada di kantong nya tidak sama dengan uang yang ada kantong temannya. Wallahualam. Hanya TUHAN yang tahu apa yang ada dibenaknya. At least yang ada di benak saya, bahwa dia meneriakan keadilan karena sesuatu yang ada di kantong nya.