Tak terasa bulan puasa ini tinggal beberapa hari lagi akan lewat. 10 hari lagi mungkin tepatnya. Tetapi tidak banyak hal yang aku dapatkan di bulan puasa ini, selain pelajaran-pelajaran hati dan kemanusiaan semata. Tapi aku tetap harus bersyukur, bahwa mungkin ini adalah saat dimana aku seharusnya belajar tentang ini. Dan mungkin besok aku akan mendapatkan sesuatu yang lebih dari sekedar pelajaran hati dan kemanusiaan semata. Berbaik sangka kepada Tuhan adalah sebuah kewajiban buatku.
Kalau aku mengutif istilah teman kantor ku, kita hanya sibuk akan urusan duniawi. Wuiihhhh … mantap sekali. Awalnya aku terpana dengan kalimat itu. Serasa kena di hatiku. Tapi kemudian aku tersadar, bahwa mungkin saat ini pelajaran itu yang harus aku dapat.
Beberapa hari sebelum puasa yang lalu, rasanya kepala ku akan pecah. Kepalaku dituntut bekerja extra cepat dan hati-hati. Dituntut untuk mengenerate sekian banyak thread. Dimana setiap thread memiliki counter waktu yang berbeda. Dan dituntut bekerja dengan kecepatan dan Fokus yang sangat tinggi. Kalau istilah temanku adalah thread ala sangkuriang. Tapi kemudian semuanya berhenti sejenak secara tiba-tiba. Ketika terjadi suatu interupt yang luar biasa menyita perhatianku.
Jujur aku rasakan, interupt ini memakan tenaga yang sungguh besar. Mungkin karena interupt ini tidak hanya menghentikan kerja kepalaku tetapi disana sudah ada permainan hati. Aku pernah bilang pada diriku, untuk berusaha bekerja tanpa hati. Karena ketika ini masuk ke dalam hati maka tenaga akan terambil dengan cepat dan extra besar. Dan aku mungkin bisa jadi bekerja dengan emosi. Sehingga bisa jadi tidak ada kenyamanan dan keikhlasan dalam melakukan pekerjaan.
Wuiihhh … Bekerja tanpa hati. Serasa aku adalah manusia tidak berhati dan berperasaan. Tidak perduli dengan ungkapan itu. Itulah aku, karena aku memiliki definisi sendiri akan arti sebuah ungkapan Tidak Pakai Hati.
Interupt ini seakan mengambil semua tenaga, pikiran dan hati yang sangat besar. Awalnya aku coba untuk mempending interupt ini di kepalaku. Agar aku tidak memaksakan keterlibatan hati di interupt ini. Tetapi karena efek interupt ini telah melampaui akal dan logika membuat aku mengenerate satu thread lagi untuk interup ini dan terus memproses nya. Yang pada akhirnya, jujur selain aku mempekerjakan kepalaku juga hatiku.
Ini sebuah Customer Satisfaction, itu istilah temanku. Mungkin ini benar. Tapi aku lebih menamakan ini adalah pekerjaan menegakkan keadilan dan kebenaran ke tempat yang seharusnya berada. Wuiihh .. mantap kali !!!
Kemarin dulu, aku pernah menulis tentang keadilan yang sama dengan om Iwan Fals, saat ini aku menamakan keadilan yang hakiki. Menuntut Keadilan akan perilaku yang tidak pada tempatnya dan tidak masuk ke dalam ranah logika ilmiah sebagai seorang yang berada di ranah ilmiah. Kita senantiasa menuntut untuk menempatkan fairness diatas sesuatu yang berkadar ilmiah. Tetapi yang ada malah sebaliknya. Menempatkan perilaku premanisme dan kekanak-kanakan yang dibungkus oleh sesuatu yang disebut ilmiah. Wuihhh …. mantap sekali.
Mulai dari awal puasa sampai 2 minggu puasa berlalu aku coba mencari dan menuntut kenapa thread interupt ini terjadi. Dan menuntut penyelesaian thread interupt ini diproses secara bersamaan. Karena interupt ini pada hakikatnya, ditujukan tidak untuk ku. Tetapi Aku menempatkan sebagai bagian pen-generate interupt ini.
Wuiihhh … perjalanan panjang dan lobby-lobby yang luar biasa. Mencoba mencari dasar pemikiran dan mencoba mendengar pendapat dari beberapa temanku yang lain. Sebelum akhirnya aku coba tujukan ke tempat yang semestinya.
Semua temanku, ternyata berfikir sama dengan ku. Atau minimal aku menemukan benang merah, atas apa yang ada di kepalaku dengan di semua temanku. Akhirnya aku nekat, memforward thread interupt ini ke tempat seharusnya dia diproses. Dengan segala kekhasan ku berbicara dan menulis. Dengan segala kata-kata emosi yang terkesan kasar, seakan melupakan ranah dimana aku berpijak. Hahhahah … Wuihhh … perduli dengan ranah ilmiah saat itu. Yang ada adalah penuntutan yang aku ungkapkan dengan sangat tegas.
Inti dari semua ini adalah orang itu lagi. Thread Interupt ini ternyata berasal dan pada hakikatnya (seharusnya) ditujukan kepada orang ini. Orang yang entah mengapa selalu bersimpangan dengan ku. Aku bukan jagoan, dan aku juga bukan orang kuat yang hidup seakan mencari musuh. Aku hidup untuk mencoba menjadi bagian orang-orang yang bersahaja.
Entah mengapa, selalu dengan ku dia "bermasalah". Aku tidak berfikir dan tidak memiliki fikiran untuk bersimpangan dengan siapapun. Aku akan berteriak dengan kencang ketika kaki ku memang terinjak, tetapi ketika orang lain terinjak, maka aku akan ikut berteriak ketika orang yang terinjak meminta aku ikut berteriak. Dan aku akan berteriak kalau memang seharusnya aku ikut berteriak.
Ya, orang ini. Orang yang kata temanku tadi siang bertanya dengan menggunakan mode broadcast di ruangan kerjaku secara tiba-tiba dan tanpa tendeng aling-aling dan mengagetkan ruanganku yang sedang sepi. Busyeeettt … kekhasan teman unik ku yang satu ini kadang membuat aku terhibur dengan nyaman … heheheh Dia mengungkapkan, "Bener gak, menurutku orang ini sombong banget yach."
Awalnya aku tidak ingin menjawab. Karena buatku, dia menggunakan mode broadcast ketika bertanya. Jadi aku mengartikannya pertanyaan itu tidak untuk ku. Jadi aku boleh tidak menjawab dan mengomentari ungkapan itu. Karena seperti itulah temanku ketika bertanya. Pada akhirnya, ketika tidak mendapatkan jawaban dia akan merubah mode broadcast ini menjadi pertanyaan dengan mode peer-to-peer. Hehehhehh …
AKhirnya aku hanya mengomentari ungkapan temanku ini setelah dia merubah mode-nya menjadi peer-to-peer, "Silahkan definisikan dan simpulkan sendiri. Toh, anda sudah dewasa atau minimal jika anda sudah merasa sudah dewasa. Kalau menurut anda seperti itu, dan anda yakin. Yakinilah pendapat anda. Tapi sebaiknya berpendapat lah lebih arif dan bijaksana." Wuihhh … mantap sekali aku bilang itu. Padahal kata arif dan bijaksana itu sulit sekali.
Menurutku masing-masing punya penilaian. Aku tidak ingin memaksakan pendapatku agar diikuti dan dianut oleh temanku ini. Biarlah temanku ini meyakini apa yang perlu dia yakini atas dasar pemikiran kepalanya yang sehat. Hahahahah ….
Di tempat thread interupt ini diproses oleh banyak orang, ternyata seperti dugaan temanku yang lain. Dia menyiapkan segala pembelaan. Dalam hatiku, aku tertawa dengan keras. Dan mengerlingkan mataku kepada temanku yang lain ini. Sebagai bukti, bahwa praduga temanku ini benar. Dia tidak akan pernah mau mengakui kesalahan. Karena dia pantang menjilat ludahnya sendiri. Lagian siapa yang mau menjilat ludah sendiri … jijik lageehh … hahahhaahha
Dan mungkin menurut dia, tak pantas lah seorang yang bergelar ilmiah buatan luar negeri mengakui kesalahan yang pernah dia perbuat. Atau malah dia memang tidak merasa berbuat kesalahan ? hahahah …. Karena dia adalah bukan manusia. Tetapi sesuatu diatas manusia. Entah apa sebutannya. Karena dia tidak pernah berbuat kesalahan. mmmmmhhh …
Ditempat itu, aku mengeluarkan kata-kata khas ku yang kasar dan jujur, membuatku aku sendiri tercengang. Sampai akhirnya terbukti lah, semua orang "menghakimi" dia dengan lembut. Tapi sayangnya, dia tidak merasa terhakimi. Hahahah …. karena dia tidak pernah salah. Hahahahahh ….
Hasil dari proses thread interupt itu, beberapa hal dianulir. Tetapi buat ku, tidak lagi menjadi sesuatu yang menarik. Karena aku hanya ingin mencari pembuktian akan dia. Dan aku sudah menemukannya. Buatku hasil keluaran dari thread interupt ini adalah sebuah konsekuensi logik.
Tetapi yang menjadi bahan tertawa ku yang lain, adalah ketika dia menjalankan keluaran thread interupt itu. Dia memperlihatkan lagi bahwa dia memang bukan manusia. Hahahah … Kenapa aku mengatakan dia bukan manusia, karena buat dia tidak pernah ada kesalahan !!!
Buatku, Seorang manusia yang berbuat Kesalahan itu ada sebuah pembuktian bahwa dia memang terbukti manusia. Kalau tanpa kesalahan maka bukan manusia. Halahhhh … terus apaan ? Malaikat ? Nabi ? mmbbuuuhhhh …. Sebuah kontrapositif bukan lagi sebuah konsekuensi logik.
Thread Interupt ini aku anggap selesai dan aku anggap berhasil mengeluarkan keluaran yang sesuai dengan apa yang ingin aku tempatkan pada tempatnya. Buat aku ini adalah sebuah penyelesaian yang sangat politis. Tapi it’s oke lah, secara aku harus belajar berpolitik getuhh … hahahahah.
Tidak ada kepuasan bagi seorang manusia. Selalu ada saja merasa kekurangan. Itu anggapanku, jadi keluaran thread interupt ini aku anggap selesai, walaupun ada beberapa hal yang sebenernya bisa aku lanjutkan ke eksekusi lain. Tapi, karena sudah sesuai dengan Final state yang telah aku tetapkan diawal. Maka buatku penyelesaian ini aku anggap selesai.
Tapi ternyata, kemaren Senin, dia kembali membuka thread ini. Hahahahhahah …. Sebuah "kemenangan" lagi buat aku. Dia bertindak sesuatu yang seharusnya dia sadar bahwa apa yang dia lakukan, aku definisikan sebagai pengalihan istilah Menjilat Ludah Sendiri hahahah …. Tanpa dia merasa sadar, bahwa sebenernya dia sedang menjilat ludah nya sendiri. Hahhahaah … jijik sekali !!! Dan sekali lagi, tindakan dia langsung aku kenali dan aku "matikan" lagi …. Skak Mat .. kalo kata orang main catur !!. Dan ungkapan mematikan tindakan dia, langsung aku awali ke bos nya dia. Dan sang bos langsung terperangah, bahwa aku bisa membalikkan itu. Hahhahahah … siang tadi sang bos memposting hasil diskusi tentang tindakan menjilat ludah itu hahahah.
Astagfirullah, …. aku telah berbuat kejam mungkin pada dia tanpa dia sadari. Tapi dari lubuk hati ku yang paling dalam, tidak ada keinginan untuk itu. Hanya sebuah usaha agar temanku yang satu ini, dapat melihat teman-temannya lain di tempat yang seharusnya dia tempatkan. Dan agar pencitraan yang baik terpancar dari sebuah kerja tim yang baik. Walau bagaimanapun, temanku yang satu ini adalah temanku. Sang pencari pelajaran. Mudah-mudahan temanku dapat mengambil pelajaran seperti hal nya aku mendapatkannya. Kalau temanku bilang, Keisengan yang membawa Korban dan Berkah.
Wallahualam, mohon maaf atas kesalahanku baik yang disengaja maupun tidak. Maafkan aku lahir bathin, secara beberapa hari lagi kita memasuki bulan syawal.